F. MANFAAT BELAJAR FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN
Filsafat berguna
untuk memuaskan keinginan tahu individu yang sifatnya sederhana (belum complicated).
Aspek inilah yang membuat manusia berbeda dari binatang. Pada taraf tertentu,
kera misalnya, dapat berpikir, dengan misalnya mempertimbangkan adanya tongkat
yang ada didekatnya yang dapat digunakan untuk mencapai pisang yang tergantung
dalam sebuah ruangan. Meskipun demikian, kera tetap tidak dapat berpikir lebih
jauh dari determinasi alat atau tongkat ini. Kera tidak dapat menghubungkan
pikirannya dengan pengalaman pemikiran yang telah terjadi di masa lampau,
apalagi memproyeksikan pemikirannya secara visioner ke masa depan. Hanya
manusia yang dapat berpikir dalam ruang dan waktu tertentu.Selain itu, di sini
juga dapat dikatakan bahwa selama hidup—dari masa kanak-kanak sampai meninggal
dunia—manusia harus melewati dua tahap pengenalan (kesadaran) yang penting,
yakni tahap keadaan ketidaktahuan (the state of innocence) dan tahap kehilangan
ketidaktahuan (the innocence lost). Keadaan ketidaktahuan pada masa kanak-kanak
sebetulnya penuh dengan keinginantahu (curiosity) yang menempatkan masa
kanak-kanak sebagai tahap yang penuh dengan pertanyaan. Di sini dapat
disimpulkan, bahwa jika filsafat memiliki asal-muasal, maka asalnya tentulah
pada masa kanak-kanak yang giat mengajukan pertanyaan tersebut. Pertanyaan dan
keingintahuan anak-anak ini apabila dimatikan atau dijawab secara sangat
otoritatif dan ideologis akan mematikan dan menghentikan kemampuan anak-anak
untuk bertanya. Inilah yang dimaksud dengan keadaan the innocence losttersebut.b) Filsafat
dapat membantu individu untuk menemukan prinsip-prinsip yang benar yang sangat
bermanfaat dalam mengarahkan hidup dan perilakunya. Di sini kita berhadapan
dengan peran dari cabang filsafat yang namanya filsafat moral atau etika.
Dengan bantuan pemikiran filsafat moral (etika), individu semakin mendalami
hidupnya, mempertanyakan secara moral seluruh tindakannya dan menetapkan prinsip-prinsip
yang baik bagi hidupnya. Dengan ini individu membebaskan diri dari kedangkalan
hidup atau hidup yang hanya menuruti keinginan dari luar saja, kehidupan tanpa
subjektivitas.c) Filsafat sangat
membantu individu untuk memperdalam hidupnya. Filsafat hukum misalnya, membantu
manusia mengintensifkan makna dari hukum bagi masyarakat pada umumnya dan para
praktisi hukum itu sendiri. Misalnya dalam memahami keterbatasan dari hukum
positif dan pentingnya rasa keadilan masyarakat yang harus dihormati dan
dijunjung tinggi dalam setiap keputusan hukum. Sementara itu, filsafat ilmu
pengetahuan membantu individu (ilmuwan) semakin mendalami ilmunya. Tidak jarang
terjadi bahwa semakin seseorang mendalami ilmunya filsafat, semakin ia mampu
mengatasi disiplin keilmuannya yang empiris dan metodis dan memasuki dunia yang
non-empiris, tetapi yang menarik akal budi dan menghantui batinnya. Albert
Einstein misalnya, tidak hanya menjadi seorang ilmuwan (ahli fisika) murni. Ia
adalah seorang ilmuwan dan filsuf. Einstein bahkan berani mengatakan: “Science
without religion is lame, religion without science is blind.” Tidak hanya
itu. Filsafat seni (estetika) memampukan seseorang untuk melihat segala sesuatu
dalam kerangka yang sangat pribadi. Estetika memfungsikan dan memperdalam
penginderaan manusia. Estetika memampukan individu untuk melihat dunia dengan
mata seorang seniman, yakni melihatnya secara sangat personal.Sementara itu,
dari segi manfaat atau kegunaan bagi masyarakat, beberapa hal dapat dikatakan
mengenai manfaat filsafat
ini.a)
Prinsip-prinsip atau pemikiran filsafat membentuk organisasi sosial berdasarkan
basis atau fondasi tertentu yang sifatnya permanen. Misalnya
institusi-institusi sosial yang berdasarkan hukum-hukum positif tertentu yang
telah disepakati
bersama.b)
Filsafat sosial terdiri dari serangkaian prinsip-prinsip atau hukum-hukum yang
menuntut keyakinan dan penerimaan atas kebenaran mereka. Selain itu, tentu saja
juga persoalan dimensi ketaatan. Ambil saja beberapa contoh. Negara Amerika
Serikat mendasarkan hidup bersama sebagai bangsa dan negara pada
prinsip-prinsip American Declaration of Independence yang sangat
dipengaruhi oleh gagasan dan pemikiran dua filsuf besar, yakni John Lock dan
Montesquieu. Uni Soviet mendasarkannya pada filsafat dan ideologi
Marxisme-Leninisme, dan Indonesia mendasarkannya pada filsafat dan ideologi
Pancasila.Semua yang telah dikatakan di atas merupakan manfaat dari mempelajari
filsafat secara umum. Nah, sekarang apa manfaat dari mempelajari filsafat ilmu
pengetahuan? Ada paling kurang 4 manfaat yang dapat dikemukakan di sini.
1. Bersama mata kuliah filsafat lainnya, filsafat
ilmu pengetahuan membantu mahasiswa untuk semakin kritis dalam sikap ilmiahnya.
Dengan mempelajari filsafat ilmu pengetahuan, mahasiswa menjadi sangat kritis
terhadap segala pandangan, keyakinan, dan teori-teori yang dihadapinya.2. Filsafat
ilmu pengetahuan membantu mahasiswa untuk menjadi seorang ilmuwan yang andal
kelak di kemudian hari. Dengan mendalami filsafat ilmu pengetahuan diharapkan
mahasiswa dapat mengembangkan kemampuan analisis ilmiahnya berdasarkan
metode-metode ilmiah tertentu. Dalam menggeluti dan mengembangkan ilmunya,
seseorang dibantu oleh pemikiran filsafat ilmu pengetahuan untuk tetap
menempatkan realitas sebagai tanda tanya dan bukan tanda seru, dan untuk selalu
menemukan jalan pemecahan terbaik atas masalah-masalah.3. Pemikiran-pemikiran
filsafat ilmu pengetahuan sangat membantu mahasiswa dalam pekerjaannya di
kemudian hari. Bukankah setiap pekerjaan adalah upaya untuk memecahkan masalah
tertentu yang kongkret? Setiap pekerjaan senantiasa bergerak dalam 3 tataran
utama, yakni tataran pengetahuan dan keterampilan (keahlian), tataran pemecahan
masalah, dan tataran manfaat (nilainya bagi kehidupan). Pemikiran-pemikiran
filsafat ilmu pengetahuan sangat membantu dalam menjawab pertanyaan apa yang
harus diketahui atau dikuasai (tataran 1), bagaimana pengetahuan atau
keterampilan atau keahlian tersebut dicapai (tataran 2), dan apa manfaat
(nilai) dari pemecahan masalah tersebut bagi kehidupan individu dan sosial.4. Pemikiran
filsafat ilmu pengetahuan membantu memecahkan persoalan-persoalan yang ditimbulkan
modernisme, seperti masalah kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan.
Masalah-masalah tersebut ternyata tidak dapat semata-mata diselesaikan oleh
ilmu pengetahuan dan teknologi. Bahkan terkesan sains dan teknologi justeru
dapat menghancurkan manusia itu sendiri. Filsafat banyak kali muncul dengan
suara lantang, meneriakkan dihentikannya penghancuran dunia dan manusia.
G. RUANG
LINGKUP DAN KEDUDUKAN FILSAFAT
Ruanglingkup dan kedudukan filsafat ilmuFilsafat
ilmu adalah merupakan bagian dari filsafat yang menjawab beberapa pertanyaan
mengenai hakikat ilmu . Bidang ini mempelajari dasar-dasar filsafat, asumsi dan
implikasi dari ilmu, yang termasuk di dalamnya antara lain ilmu alam dan ilmu
sosial. Di sini, filsafat ilmu sangat berkaitan erat dengan epistemologi dan
ontologi. Filsafat ilmu berusaha untuk dapat menjelaskan masalah-masalah
seperti: apa dan bagaimana suatu konsep dan pernyataan dapat disebut sebagai
ilmiah, bagaimana konsep tersebut dilahirkan, bagaimana ilmu dapat menjelaskan,
memperkirakan serta memanfaatkan alam melalui teknologi; cara menentukan
validitas dari sebuah informasi; formulasi dan penggunaan metode ilmiah;
macam-macam penalaran yang dapat digunakan untuk mendapatkan kesimpulan; serta
implikasi metode dan model ilmiah terhadap masyarakat dan terhadap ilmu
pengetahuan itu sendiri .1. Epistemologi. Epistemology (dari bahasa Yunani
episteme (pengetahuan) dan logos (kata/pembicaraan/ilmu) adalah cabang filsafat
yang berkaitan dengan asal, sifat, karakter dan jenis pengetahuan. Topik ini
termasuk salah satu yang paling sering diperdebatkan dan dibahas dalam bidang
filsafat, misalnya tentang apa itu pengetahuan, bagaimana karakteristiknya,
macamnya, serta hubungannya dengan kebenaran dan keyakinan.Epistemologi atau
Teori Pengetahuan yang berhubungan dengan hakikat dari ilmu pengetahuan,
pengandaian-pengandaian, dasar-dasarnya serta pertanggung jawaban atas
pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki oleh setiap manusia. Pengetahuan
tersebut diperoleh manusia melalui akal dan panca indera dengan berbagai
metode, diantaranya; metode induktif, metode deduktif, metode positivisme,
metode kontemplatis dan metode dialektis.Metode-metode untuk memperoleh
pengetahuana. EmpirismeEmpirisme adalah suatu cara/metode dalam filsafat yang
mendasarkan cara memperoleh pengetahuan dengan melalui pengalaman. John Locke,
bapak empirisme Britania, mengatakan bahwa pada waktu manusia di lahirkan
akalnya merupakan jenis catatan yang kosong (tabula rasa),dan di dalam buku
catatan itulah dicatat pengalaman-pengalaman inderawi. Menurut Locke, seluruh
sisa pengetahuan kita diperoleh dengan jalan menggunakan serta memperbandingkan
ide-ide yang diperoleh dari penginderaan serta refleksi yang pertama-pertama
dan sederhana tersebut.Ia memandang akal sebagai sejenis tempat
penampungan,yang secara pasif menerima hasil-hasil penginderaan tersebut. Ini
berarti semua pengetahuan kita betapapun rumitnya dapat dilacak kembali sampai
kepada pengalaman-pengalaman inderawi yang pertama-tama, yang dapat diibaratkan
sebagai atom-atom yang menyusun objek-objek material. Apa yang tidak dapat atau
tidak perlu di lacak kembali secara demikian itu bukanlah pengetahuan, atau
setidak-tidaknya bukanlah pengetahuan mengenai hal-hal yang factual.b.
RasionalismeRasionalisme berpendirian bahwa sumber pengetahuan terletak pada
akal. Bukan karena rasionalisme mengingkari nilai pengalaman, melainkan
pengalaman paling-paling dipandang sebagai sejenis perangsang bagi pikiran.
Para penganut rasionalisme yakin bahwa kebenaran dan kesesatan terletak di dalam
ide kita, dan bukannya di dalam diri barang sesuatu. Jika kebenaran mengandung
makna mempunyai ide yang sesuai dengan atau menunjuk kepada kenyataan, maka
kebenaran hanya dapat ada di dalam pikiran kita dan hanya dapat diperoleh
dengan akal budi saja.
c. FenomenalismeBapak Fenomenalisme adalah Immanuel Kant. Kant membuat uraian
tentang pengalaman. Barang sesuatu sebagaimana terdapat dalam dirinya sendiri
merangsang alat inderawi kita dan diterima oleh akal kita dalam bentuk-bentuk
pengalaman dan disusun secara sistematis dengan jalan penalaran. Karena itu
kita tidak pernah mempunyai pengetahuan tentang barang sesuatu seperti
keadaannya sendiri, melainkan hanya tentang sesuatu seperti yang menampak
kepada kita, artinya, pengetahuan tentang gejala (Phenomenon).Bagi Kant para
penganut empirisme benar bila berpendapat bahwa semua pengetahuan didasarkan
pada pengalaman-meskipun benar hanya untuk sebagian. Tetapi para penganut
rasionalisme juga benar, karena akal memaksakan bentuk-bentuknya sendiri
terhadap barang sesuatu serta pengalaman.d. IntusionismeMenurut Bergson,
intuisi adalah suatu sarana untuk mengetahui secara langsung dan seketika.
Analisa, atau pengetahuan yang diperoleh dengan jalan pelukisan, tidak akan
dapat menggantikan hasil pengenalan secara langsung dari pengetahuan
intuitif.Salah satu di antara unsur-unsur yang berharga dalam intuisionisme
Bergson ialah, paham ini memungkinkan adanya suatu bentuk pengalaman di samping
pengalaman yang dihayati oleh indera. Dengan demikian data yang dihasilkannya
dapat merupakan bahan tambahan bagi pengetahuan di samping pengetahuan yang
dihasilkan oleh penginderaan. Kant masih tetap benar dengan mengatakan bahwa
pengetahuan didasarkan pada pengalaman, tetapi dengan demikian pengalaman harus
meliputi baik pengalaman inderawi maupun pengalaman intuitif.Hendaknya diingat,
intusionisme tidak mengingkati nilai pengalaman inderawi yang biasa dan
pengetahuan yang disimpulkan darinya. Intusionisme – setidak-tidaknya dalam
beberapa bentuk-hanya mengatakan bahwa pengetahuan yang lengkap di peroleh
melalui intuisi, sebagai lawan dari pengetahuan yang nisbi-yang meliputi
sebagian saja-yang diberikan oleh analisis. Ada yang berpendirian bahwa apa
yang diberikan oleh indera hanyalah apa yang menampak belaka, sebagai lawan dari
apa yang diberikan oleh intuisi, yaitu kenyataan. Mereka mengatakan, barang
sesuatu tidak pernah merupakan sesuatu seperti yang menampak kepada kita, dan
hanya intuisilah yang dapat menyingkapkan kepada kita keadaanya yang
senyatanya.e. DialektisYaitu tahap logika yang mengajarkan kaidah-kaidah dan
metode penuturan serta analisis sistematik tentang ide-ide untuk mencapai apa
yang terkandung dalam pandangan. Dalam kehidupan sehari-hari dialektika berarti
kecakapan untuk melekukan perdebatan. Dalam teori pengetahuan ini merupakan
bentuk pemikiran yang tidak tersusun dari satu pikiran tetapi pemikiran itu
seperti dalam percakapan, bertolak paling kurang dua kutub.
2. Ontologi Ontology merupakan salah satu kajian filsafat yang paling kuno
dan berasal dari Yunani. Studi tersebut membahas keberadaan sesuatu yang
bersifat konkret. Tokoh Yunani yang memiliki pandangan yang bersifat ontologis
dikenal seperti Thales, Plato, dan Aristoteles . Pada masanya, kebanyakan orang
belum membedaan antara penampakan dengan kenyataan. Thales terkenal sebagai
filsuf yang pernah sampai pada kesimpulan bahwa air merupakan substansi
terdalam yang merupakan asal mula segala sesuatu. Namun yang lebih penting
ialah pendiriannya bahwa mungkin sekali segala sesuatu itu berasal dari satu substansi
belaka (sehingga sesuatu itu tidak bisa dianggap ada berdiri sendiri).Hakekat
kenyataan atau realitas memang bisa didekati ontologi dengan dua macam sudut
pandang:1. kuantitatif, yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan itu
tunggal atau jamak?2. Kualitatif, yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan
(realitas) tersebut memiliki kualitas tertentu, seperti misalnya daun yang
memiliki warna kehijauan, bunga mawar yang berbau harum.Secara sederhana
ontologi bisa dirumuskan sebagai ilmu yang mempelajari realitas atau kenyataan
konkret secara kritis. Beberapa aliran dalam bidang ontologi, yakni realisme,
naturalisme, empirisme.
3. Aksiologi Aksilogi merupakan cabang filsafat ilmu yang mempertanyakan
bagaimana manusia menggunakan ilmunya. Aksiologi berasal dari kata Yunani:
axion (nilai) dan logos (teori), yang berarti teori tentang nilai.Pertanyaan di
wilayah ini menyangkut, antara lain:a) Untuk apa pengetahuan ilmu itu
digunakan?b) Bagaimana kaitan antara cara penggunaannya dengan kaidah-kaidah moral?c)
Bagaimana penentuan obyek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral?d)
Bagaimana kaitan metode ilmiah yang digunakan dengan norma-norma moral dan
professional?Filsafat ilmu dikenal sebagai disiplin tersendiri pada abad ke-20
sebagai akibat profesionalisasi dan spesialisasi ilmu-ilmu alam . Berfikir
secara filsafat dapat diartikan sebagai berpikir yang sangat mendalam sampai
pada hakikat, atau berpikir secara global (menyeluruh), atau berpikir dilihat
dari berbagai sudut pandang pemikiran atau sudut pandang ilmu pengetahuan.
Berfikir yang demikian ini sebagai upaya untuk dapat berfikir secara tepat dan
benar serta dapat dipertanggungjawabkan. Bahasan yang di cerna oleh ilmu
filsafat sangat luas cakupannya. Poin yang utama ditujunya adalah mencari hakikat
kebenaran segala sesuatu. Baik dalam kebenaran berfikir ( Logika ), kebenaran
tingkah laku (Etika) Maupun dalam mencari hakikat sesuatu yang ada dibalik alam
nyata (metafisika), sehingga persoalannya adalah apakah sesuatu itu hakiki
(benar) atau maya (palsu).Jadi Filsafat ilmu adalah bagian dari filsafat
pengetahuan yang mengkaji tentang hakikat ilmu. Dimana ilmu merupakan cabang
pengetahuan yang mempunyai cirri-ciri tertentu yaitu yang bersifat konkrit yang
artinya masalah tersebut terdapat dalam jangkauan pengalaman manusia. Selain
bersifat konkrit, ilmu juga mempunyai ciri sifat lain, yaitu bersifat nyata
yang artinya jawaban itu ada pada dunia nyata dan ilmu itu dimulai dari fakta
dan diakhiri dengan fakta, dan dari ciri – ciri tersebut terdapat dalam ilmu,
kita bisa mengetahui fungsi dari filsafat ilmu dan arah dari filsafat
ilmu.Filsafat ilmu mempelajari apakah objek yang ditelaah dalam ilmu, bagaimana
proses mendapatkan ilmu dan apakah kegunaan ilmu tersebut. Objek atau hakekat
sesuatu dipelajari dalam ontologi, cara mendapatkannya dipelajari dalan
epistemologi, dan kegunaannya dipelajari dalam aksiologi. Dari kajian – kajian
yang terdapat dalam ilmu filsafat ilmu kita bisa mengetahui kembali fungsi dari
arah filsafat ilmu. Oleh karena itu fungsi filsafat ilmu adalah :1. Untuk
mengetahui objek apa saja yang ditela’ah dalam ilmu2. untuk mengetahui tentang
proses mendapatkan ilmu3. untuk mengethui kegunaan dari ilmu tersebut4. untuk
mengetahui ciri – ciri tertentu dari cabang – cabang pengetahuan yang termasuk
kedalam objek kajian dari filsafat ilmu.Sedangkan arah dari filsafat ilmu
adalah mengarahkan seseorang untuk mengkaji filsafat lebih dalam tentang
hakikat sesuatu itu benar atau salah , baik atau buruk, indah atau jelek. yang
masing – masing sifat tersebut dapat mengarahkan seseorang ahli filsafat untuk
mengetahui tentang filsafat ilmu. Filsafat yang mengkaji tentang salah – benar
disebut loga, filsafat yang mengkaji tentang baik – buruk disebut etika dan
filsafat yang mengkaji tentang indah – jelek disebut estetika.Ilmu merupakan
suatu cara berfikir dalam menghasilkan suatu kesimpulan yang berupa pengetahuan
yang dapat diandalkan. Berfikir bukan satu –satunya cara dalam mendapatkan
pengetahuan. Demikian juga ilmu bukan satu –satunya produk dari kegiatan
berfikir menurut langkah – langkah tertentu yang secara umum dapat disebut
sebagai berfikir ilmiah. Berfikir ilmiah merupakan kegiatan berfikir yang
memenuhi persyaratan – persyaratan tertentu. Persyaratan tersebut pada
hakikatnya mencakup dua kriteria utama yakni; pertama berpikir ilmiah harus
mempunyai alur jalan fikiran yang logis, yang kedua pernyataan yang bersifat
logis tersebut harus didukung oleh fakta empiris. Persyaratan pertama
mengharuskan alur jalan pikiran kita untuk konsisten dengan pengetahuan ilmiah
yang telah ada sedangkan persyaratan kedua mengharuskan kita untuk menerima
pernyataan yang didukung oleh fakta sebagai pernyataan yang benar secara
ilmiah.Pernyataan yang telah diuji kebenarannya ini kemudian diperkaya khasanah
pengetahuan pengetahuan ilmiah yang disusun secara sistematik dan komulatif.
Kebenaran ilmiah ini tidaklah bersifat mutlak sebab mungkin saja pernyataan
yang sekarang logis kemudian akan bertentangan dengan ilmu pengetahuan ilmiah
baru atau pernyataan yang sekarang didukung oleh fakta kemudian di tentang oleh
penemuan baru, kebenaran ilmiah terbuka bagi koreksi dan penyempurnaan.
H.SEJARAH
PERKEMBANGAN ILMU
Dalam sejarah perkembangannya sebagaimana yang terjadi di
dunia Islam dengan kelahiran mu’tazilah yang mengedepankan akal (rasio) sekitar
(abad 2H/8M), di dunia Eropa juga lahir gerakan Aufklarung (abad 11 H/17 M).
Kedua sisi ini hendak merasionalkan agama. Mu’tazilah menolak adanya
sifat-sifatTuhan dan Aufklarung menolak trinitas sebagai sifat Tuan. Alam
Aufklarunginilah dalam perkembangannya telah membuat peradaban Eropa menjurus
padapemujaan akal. Mereka berpendapat bahwa antara ilmu dan agama
terjadipertentangan yang keras, ilmu pengetahuan berkembang pada dunianya
danagama pada dunia yang lain. Dalam persoalan ini lahirlah sikap sekuleristik
dalamilmu pengetahuan.Liberalisasi, emensipasi, otonomi pribadi, dan otoritas
rasio yang begitudiagungkan merupakan nilai-nilai kejiwaan yang selalu mewarnai
sikap mentalmanusia Barat semenjak zaman renaissance (abad 15) dan Aufklaerung
(abad ke18) yang memungkinkan mereka melakukan tinggal landas mengarungi
dirgantarailmu pengetahuan yang tiada bertepi dengan hasil-hasil sebagaimana
merekamiliki hingga sekarang ini.Zaman perkembangan ilmu yang paling menentukan
dasar kemajuan ilmusekarang ini ialah sejak zaman sekarang ini ialah sejak abad
ke 17 dengandorongan beberapa hal: pertama : untuk mengembalikan keputusan
danpernyataan-pernyataan ilmiah lalu menonjolkan peranan matematik sebagai
saranapenunjang pemikiran ilmiah. Dalam angka inilah mulainya menonjol peranan
penggunaan angka Arab di Eropa (angka yang kita kenal di dunia sekarang)karena
dinilai lebih sederhana dan praktis dari pada angka –angka Romawi.Adapun
angka Arab itu sendiri dikembangkan dan berasal dari kebudayaan India.Faktor
yang kedua dalam revolusi ilmu di abad ke 17, ialah makin gigihnya parailmuwan
menggunakan pengamatan dan eksperimen, dalam membuktikankebenaran-kebenaran
preposisi ilmu.Namun J.B.Bury menyangkal bahwa kemajuan ilmu tidak terdapat
padaabad pertengahan bahkan tidak terdapat pada awal Renaissance ,tetapi baru
abadke -17, sebagai hasil dari rumusan Cartesius tentang dua aksioma yaitu :1)
berkuasanya akal manusia dan 2) tak berubah-ubahnya hukum alam.Perkembangan
pemikiran secara teoritis senantiasa mengacu kepada peradabanYunani .Oleh
karena itu periodesasi perkembangan ilmu disusun mulai dariperadaban Yunani
kemudian diakhiri pada penemuan-penemuan pada zamankontemporer. Secara singkat
periodesasi perkembangan ilmu dapat digambarkansebagai berikut :A.Pra Yunani
Kuno (abad 15-7 SM)Dalam sejarah perkembangan peradaban manusia. Yakni ketika
belummengenal peralatan seperti yang dipakai sekarang ini. Pada masa itu
manusiamasih menggunakan batu sebagai peralatan. Masa zaman batu berkisar
antara4 juta tahun sampai 20.000 tahun sebelum masehi. Sisa peradaban
manusiayang ditemukan pada masa ini antara lain: alat-alat dari batu, tulang
belulangdari hewan, sisa beberapa tanaman, gambar-gambar digua-gua,
tempat-tempatpenguburan, tulang belulang manusia purba. Evolusi ilmu
pengetahuan dapat diruntut melalui sejarah perkembangan pemikiran yang terjadi
di Yunani,Babilonia, Mesir, China, Timur Tengah dan Eropa.B.Zaman Yunani kuno
(abad-7-2 SM)Zaman Yunani kuno dipandang sebagai zaman keemasan filsafat,
karenapada masa ini orang memiliki kebebasan untuk mengeluarkan ide-ide
ataupendapatnya, Yunani pada masa itu dianggap sebagai gudangnya ilmu
danfilsafat, karena Yunani pada masa itu tidak mempercayai
mitologi-mitologi.Bangsa Yunani juga tidak dapat menerima pengalaman-pengalaman
yangdidasarkan pada sikap menerima saja (receptive attitude) tetapi
menumbuhkananquiring attitude (senang menyelidiki secara kritis).Sikap inilah
yang menjadikan bangsa Yunani tampil sebagai ahli-ahlipikir yang terkenal
sepanjang masa. Beberapa tokoh yang terkenal pada masaini antara lain : Thales,
Demokrates dan Aristoteles. C.Zaman Pertengahan (Abad 2- 14 SM)Zaman
pertengahan (middle age) ditandai dengan para tampilnyatheolog di lapangan ilmu
pengetahuan. Ilmuwan pada masa ini adalah hampirsemuanya para theolog, sehingga
aktivitas ilmiah terkait dengan aktivitaskeagamaan. Atau dengan kata lain
kegiatan ilmiah diarahkan untuk mendukung kebenaran agama. Semboyan pada
masa ini adalah AnchilaTheologia (abdi agama). Peradaban dunia Islam terutama abad
7 yaitu Zamanbani Umayah telah menemukan suatu cara pengamatan stronomi, 8
abadsebelum Galileo Galilie dan Copernicus. Sedangkan peradaban Islam
yangmenaklukan Persia pada abad 8 Masehi, telah mendirikan Sekolah kedokteran
dan Astronomi di Jundishapur. Pada masa keemasan kebudayaan Islam,dilakukan
penerjemahan berbagai karya Yunani. Dan bahkan khalifahAl_Makmun telah
mendirikan rumah Kebijaksanaan (House of Wisdom) / Baitul Hikmah
pada abad 9. Pada abad ini Eropa mengalami zaman kegelapan(dark age).D.Masa
Renaissance (14-17 M)Renaisance merupakan era sejarah yang penuh dengan
kemajuan danperubahan yang mengandung arti bagi perkembangan ilmu. Zaman yang
menyaksikan dilancarkannya tantangan gerakan reformasi terhadap keesaandan
supremasi gereja katolik Roma,bersamaan dengan berkembangnyahumanisme. Zaman
ini juga merupakan penyempurnaan kesenian, keahlian,dan ilmu yang diwujudkan
dalam diri jenius serba bisa, Leonardo Da Vinci.Penemuan percetakan (kira-kira
1440 M) oleh kolumbus memberikandorongan lebih keras untuk meraih kemajuan
ilmu. Kelahiran kembali sastradi Inggris, Prancis, dan Spayol diwakili
Shakespeare, Spencer, Rabelais, danRonsard. Pada masa itu, seni musik juga
mengalami perkembagan. Adanyapenemuan para ahli perbintangan seperti Copernicus
dan Galileo menjadidasar munculnya astronomi modern yang merupakan titik balik
dalampemikiran ilmu dan filsafat. Tidaklah mudah membuat garis batas yang
tegas antara zamanRenaisance dengan zaman modern. Sementara orang menganggap
bahwazaman modernhanyalah perluasan Renaisance. Akan tetapi, pemikiran ilmiah
membawa manusia lebih maju kedepan dengan kecepatan yang besar,
berkatkemampuan-kemampuan yang dihasilkan oleh masa-masa sebelumnya.Manusia
maju dengan langkah raksasa dari zaman uap ke zaman listrik,kemudian ke zaman
atom, elektron, radio, televisi, roket dan zaman ruangangkasa.E. Perkembangan
Filsafat Zaman Modern (17-19 M)Zaman ini ditandai dengan berbagai dalam bidang
ilmiah, serta filsafatdari berbagai aliran muncul. Pada dasarnya corak secara
keseluruhan bercorak sufisme Yunani. Paham – paham yang muncul
dalam garis besarnya adalahRasionalisme, Idialisme, dengan Empirisme. Paham
Rasionalismemengajarkan bahwa akal itulah alat terpenting dalam memperoleh
danmenguji pengetahuan. Ada tiga tokoh penting pendukung rasionalisme ini,yaitu
Descartes, Spinoza, dan Leibniz. Sedangkan aliran Idialisme mengajarkan
hakekat fisik adalah jiwa,spirit. Ide ini merupakan ide Plato yang memberikan
jalan untuk memperlajaripaham idealisme zaman modern. Para pengikut aliran/paham
ini padaumumnya, sumber filsafatnya mengikuti filsafat kritisisismenya
ImmanuelKant. Fitche (1762-1814) yang dijuluki sebagai penganut Idealisme
subyektif merupakan murid Kant. Sedangkan Scelling, filsafatnya dikenal
denganfilsafat Idealisme Objektif .Kedua Idealisme ini kemudian disintesakan
dalamFilsafat Idealisme Mutlak Hegel.Pada Paham Empirisme mengajarkan bahwa
tidak ada sesuatu dalampikiran kita selain didahului oleh pengalaman. ini
bertolak belakang denganpaham rasionalisme. Mereka menentang para penganut
rasionalisme yangberdasarkan atas kepastian-kepastian yang bersifat apriori.
Pelopor aliran iniadalah Thomas Hobes Jonh locke,dan David Hume.F.Zaman
KontemporerYang dimaksud dengan zaman kontemporer adalah dalam kontek iniadalah
era tahun-tahun terakhir yang kita jalani hingga saat sekarang. Halyang
membedakan pengamatan tentang ilmu pada zaman sekarang adalahbahwa zaman modern
adalah era perkembangan ilmu yang berawal sejak sekitar abad ke-15,
sedangkan kontemporer memfokuskan sorotannya padaberbagai perkembangan terakhir
yang terjadi hingga saat sekarang. Beberapacontoh perkembangan ilmu kontemporer
adalah : Santri, Priyayi, danAbangan. Lebih lanjut Semenjak tahun 1960 filsafat
ilmu mengalamiperkembangan yang sangat pesat, terutama sejalan dengan pesatnyaperkembangan
ilmu dan teknologi yang ditopang penuh oleh positivisme-empirik, melalui
penelaahan dan pengukuran kuantitatif sebagai andalanutamanya. Berbagai
penemuan teori dan penggalian ilmu berlangsung secaramengesankan.Pada periode
ini berbagai kejadian dan peristiwa yang sebelumnyamungkin dianggap sesuatu
yang mustahil, namun berkat kemajuan ilmu danteknologi dapat berubah menjadi
suatu kenyataan. Bagaimana pada waktu ituorang dibuat tercengang dan
terkagum-kagum, ketika Neil Amstrong benar-benar menjadi manusia pertama yang
berhasil menginjakkan kaki di Bulan.Begitu juga ketika manusia berhasil
mengembangkan teori rekayasa genetikadengan melakukan percobaan cloning pada
kambing, atau mengembangkancyber technology, yang memungkinkan manusia untuk
menjelajah duniamelalui internet. Semua keberhasilan ini kiranya semakin
memperkokohkeyakinan manusia terhadap kebesaran ilmu dan teknologi. Memang,
tidak dipungkiri lagi bahwa positivisme-empirik yang serba matematik,
fisikal,reduktif dan free of value telah membuktikan kehebatan dan
memperolehkejayaannya, serta memberikan kontribusi yang besar dalam
membangunperadaban manusia seperti sekarang ini.Namun, dibalik keberhasilan
itu, ternyata telah memunculkan persoalan-persoalan baru yang tidak sederhana,
dalam bentuk kekacauan, krisis danchaos yang hampir terjadi di setiap belahan
dunia ini. Alam menjadi marahdan tidak ramah lagi terhadap manusia, karena
manusia telah memperlakukandan mengexploitasinya tanpa memperhatikan
keseimbangan dankelestariannya. Berbagai gejolak sosial hampir terjadi di
mana-mana sebagaiakibat dari benturan budaya yang tak terkendali.Kesuksesan
manusia dalam menciptakan teknologi-teknologi raksasaternyata telah menjadi
bumerang bagi kehidupan manusia itu sendiri. Raksasa-raksasa teknologi yang
diciptakan manusia itu seakan-akan berbalik untuk menghantam dan menerkam
si penciptanya sendiri, yaitu manusia.Berbagai persoalan baru sebagai dampak
dari kemajuan ilmu danteknologi yang dikembangkan oleh kaum
positivisme-empirik, telah memunculkan berbagai kritik di kalangan ilmuwan
tertentu. Kritik yang sangat tajam muncul dari kalangan penganut “Teori Kritik
Masyarakat”,Kritik terhadap positivisme, kurang lebih bertali temali dengan
kritik terhadapdeterminisme ekonomi, karena sebagian atau keseluruhan
bangunandeterminisme ekonomi dipancangkan dari teori pengetahuan
positivistik.Positivisme juga diserang oleh aliran kritik dari berbagai latar
belakang dandidakwa berkecenderungan meretifikasi dunia sosial. Selain itu
Positivismedipandang menghilangkan pandangan aktor, yang direduksi sebatas
entitas pasif yang sudah ditentukan oleh “kekuatan-kekuatan natural”.
Pandangan teoritikus kritik dengan kekhususan aktor, di mana mereka menolak ide
bahwaaturan aturan umum ilmu dapat diterapkan tanpa mempertanyakan tindakan
manusia. Akhirnya “ Teori Kritik Masyarakat” menganggap bahwa positivisme
dengan sendirinya konservatif, yang tidak kuasa menantangsistem yang
eksis.Senada dengan pemikiran di atas, Nasution (1996:4) mengemukan pulatentang
kritik post-positivime terhadap pandangan positivisme yang bercirikanfree of
value, fisikal, reduktif dan matematika.Aliran post-positivime tidak menerima
adanya hanya satu kebenaran,. Rich (1979) mengemukakan “There is no the truth
nor a truth – truth is notone thing, -or even a system. It is an
increasing completely” Pengalaman manusia begitu kompleks sehingga tidak
mungkin untuk diikat oleh sebuahteori. Freire (1973) mengemukakan bahwa tidak
ada pendidikan netral, maka tidak ada pula penelitian yang netral. Usaha untuk
menghasilkan ilmu sosial yang bebas nilai makin ditinggalkan karena tak mungkin
tercapai dan karena itu bersifat “self deceptive” atau penipuan diri dan
digantikan oleh ilmu sosial yang berdasarkan ideologi tertentu. Hesse (1980)
mengemukakan bahwa kenetralandalam penelitian sosial selalu merupakan problema
dan hanya merupakansuatu ilusi. Dalam penelitian sosial tidak ada apa yang
disebut “obyektivitas”.“ Knowledge is a’socially contitued’, historically
embeded, and valuationally. Namun ini tidak berarti bahwa hasil penelitian
bersifat subyektif semata-mata, oleh sebab penelitian harus selalu dapat
dipertanggung- jawabkan secara empirik, sehingga dapat dipercaya dan
diandalkan.
I.LANDASAN PENELAHAAN ILMU
Landasan Penelaahan IlmuLandasan pokok dalam
penelaahan ilmu bertumpu pada tiga cabang filsafat, yaitu ontologi,
epistimologi dan aksiologi. Landasan ontologi berkaitan dengan pemahaman
seseorang tentang kenyataan, landasan epistemologi memberikan pemahaman tentang
sumber dan sarana pengetahuan manusia sedangkan landasan aksiologi yang
memberikan suatu pemahaman tentang nilai hubungan kualitas obyek dengan subyek
(ilmuan) .1. Landasan OntologiOntologi adalah cabang filsafat yang membicarakan
tentang yang ada. Dalam kaitannya dengan ilmu, landasan ontologi mempertanyakan
tentang objek apa yang ditelaah ilmu, bagaimana wujud hakiki dari objek
tersebut . Secara ontologi ilmu membatasi lingkup penelaahan keilmuannya hanya
pada daerah-daerah yang berada dalam jangkauan pengalaman manusia. Objek
penelaahan yang berada dalam batas pra-pengalaman dan pasca pengalaman
diserahkan ilmu kepada pengetahuan lain. Ilmu hanya merupakan salah satu
pengetahuan dari sekian banyak pengetahuan yang mencoba menelaah kehidupan
dalam batas ontologi tertentu. Penetapan lingkup batas penelaahan keilmuan yang
bersifat empiris ini adalah konsisten dengan asas epistimologi keilmuan yang
mensyaratkan adanya verifikasi secara empiris dalam proses penemuan dan
penyusunan pernyataan yang bersifat benar secara ilmiah .Disamping itu, secara
ontologi ilmu bersifat netral terhadap nilai-nilai yang bersifat dogmatik dalam
menafsirkan hakikat realitas, sebab ilmu merupakan upaya manusia untuk
mempelajari alam sebagaimana adanya. Sebagaimana kita mendefinisikan manusia,
maka berbagai pengertianpun akan muncul.Contoh: ada pertanyaan, Siapakah
manusia itu? Jawab ilmu ekonomi ialah makhluk ekonomi sedang ilmu politik
menjawab manusia adalah mahluk politikal.2. Landasan EpistimologiEpistimologi
adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang asal muasal, sumber, metode,
struktur dan validitas atau kebenaran pengetahuan. Dalam kaitannya dengan ilmu,
landasan epistimologi mempertanyakan bagaimana proses yang memungkinkan
ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Apa
kriterianya? Cara atau teknik atau sarana apa yang membantu kita dalam
mendapatkan pengetahuan yan berupa ilmu? .Landasan epistimologi ilmu tercermin
secara operasional dalam metode ilmiah. Pada dasarnya metode ilmiah merupakan
cara ilmu memperoleh dan menyusun tubuh pengetahuan berdasarkan:a. Kerangka
pemikiran yang bersifat logis dengan argumentasi yang bersifat konsisten dengan
pengetahuan sebelumnya yang telah berhasil disusun.b. Menjabarkan hipotesis
yang merupakan deduksi dari kerangka pemikiran tersebut.c. Melakukan verifikasi
terhadap hipotesis termaksud untuk menguji kebenaran pernyataan secara faktual
.Kerangka pemikiran yang logis adalah argumentasi yang bersifat rasional dalam
mengembangkan terhadap fenomena alam. Verifikasi secara empiris berarti
evaluasi secara obyektif dari suatu pernyataan hipotesis terhadap kenyataan
faktual. Verifikasi ini berarti bahwa ilmu terbuka untuk kebenaran lain selain
yang terkandung dalam hipotesis. Demikian juga verifikasi faktual membuka diri
terhadap kritik kerangka pemikiran yang mendasari pengajuan hipotesis.
Kebenaran ilmiah dengan keterbukaan terhadap kebenaran baru mempunyai sifat
pragmatis yang prosesnya secara berulang (siklus) berdasarkan cara berpikir
kritis . Karena ilmu merupakan sikap hidup untuk mencari suatu kebanaran dan
mencintai kebenaran sesuai dengan kaitan moral.3. Landasan AksiologiAksiologi
adalah cabang filsafat yang mempelajari tentang nilai secara umum. Sebagai
landasan ilmu, aksiologi mempertanyakan untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu
itu dipergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan
kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan
pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara teknik, prosedural yang
merupakan operasional? .Pada dasarnya ilmu harus dipergunakan dan dimanfaatkan
untuk kemaslahatan manusia. Dalam hal ini, ilmu dapat dimanfaatkan sebagai
sarana atau alat dalam meningkatkan taraf hidup manusia dengan memperhatikan
kodrat, martabat manusia dan kelestarian atau keseimbangan alam .Untuk
kepentingan manusia tersebut pengetahuan ilmiah yang diperoleh dan disusun
dipergunakan secara komural dan universal. Komural berarti ilmu merupakan
pengetahuan yang menjadi milik bersama, semua orang berhak memanfaatkan ilmu
menurut kebutuhannya. Universal berarti ilmu tidak memiliki konotasi ras,
ideologi atau agama.Sebagaimana contoh seorang kepala desa mempelajari ilmu
manajemen desa secara detail, mulai dari wilayah desa, mata pencaharian
penduduk sampai dengan kehidupan sehari-hari para penduduk sekitar. Dengan landasan
aksiologi mempertanyakan nilai apa yang terdapat didalam ilmu manajemen desa
tersebut, sehingga terjawablah pertanyaan nilai tersebut dengan gambaran
keberhasilan kepala desa untuk memajukan desanya dalam bidang kesejahteraan
penduduk desa dan kelestarian wilayah desa.
D. Keterkaitan Landasan Ontologi, Epistimologi dan aksiologiIlmu merupakan
cabang pengetahuan yang mempunyai ciri-ciri tertentu. Setiap jenis pengetahuan
mempunyai ciri-ciri yang spesifik mengenai apa (ontologi), bagaimana
(epistimologi) dan untuk apa (aksiologi) pengetahuan tersebut disusun. Ketiga
landasan ini saling berkaitan antar satu dengan lainnya.
E. Manfaat Landasan Ontologi, Epistimologi dan Aksiologi dalam Penelaahan
IlmuUntuk membedakan jenis pengetahuan yang satu dengan pengetahuan lainnya
maka pertanyaan yang dapat diajukan adalah: apa yang dikaji oleh pengetahuan
itu (Ontologi)? Bagaimana cara mendapatkan pengetahuan itu (Epistimologi)?
Serta untuk apa pengetahuan termaksud dipergunakan (Aksiologi)? Dengan
mengetahui ketiga jawaban dari ketiga pertanyaan ini maka dengan mudah kita
dapat membedakan berbagai jenis pengetahuan yang terdapat dalam hasanah
kehidupan manusia. Hal ini memungkinkan kita untuk mengenali berbagai
pengetahuan yang ada, seperti ilmu, seni dan agama serta meletakkan mereka pada
tempatnya masing-masing yang saling memperkaya kehidupan kita. Tanpa mengenal
ciri-ciri pengetahuan dengan benar maka bukan saja kita tidak dapat
memanfaatkan keguanaannya secara maksimal namun kadang kita salah dalam
menggunakannya, seperti ilmu dikacaukan dengan seni, ilmu dikonfigurasikan
dengan agama.
J. SARANA BERFIKIR ILMIAH
1. Definisi Sarana Berpikir IlmiahBerpikir
merupakan sebuah proses yang membuahkan pengetahuan. Proses inimerupakan
serangkaian gerak pemikiran dalam mengikuti jalan pemikiran tertentu yang
akhirnya sampai pada sebuah kesimpulan yang berupa pengetahuan. Berpikir ilmiah
adalah kegiatan akal yang menggabungkan induksi dan deduksi. Induksi adalah
cara berpikir yang di dalamnya kesimpulan yang bersifat umum ditarik dari
pernyataan-pernyataan atau kasus-kasus yang bersifat khusus; sedangkan, deduksi
ialah cara berpikir yang di dalamnya kesimpulan yang bersifat khusus ditarik
dari pernyataan-pernyataan yang bersifat umum. Sarana berpikir ilmiah
merupakan alat bagi langkah-langkah (metode) ilmiah, atau membantu
langkah-langkah ilmiah, untuk mendapatkan kebenaran. Fungsi sarana berpikir
ilmiah adalah membantu proses metode ilmiah untuk mendapat ilmu atau teori yang
lain.a. Hal-hal yang perlu diperhatikan dari sarana berpikir ilmiah adalah
:Sarana berpikir ilmiah bukanlah ilmu, melainkan kumpulan pengetahuan yang
didapatkan berdasarkan metode ilmiah.b. Tujuan mempelajari metode ilmiah adalah
untuk memungkinkan kita melakukan penelaahan ilmiah secara baik.Untuk dapat melakukan
kegiatan berpikir ilmiah dengan baik maka diperlukan sarana berpikir ilmiah
yaitu bahasa, matematika, dan statistika.Matematika mempunyai peranan yang
penting dalam berpikir deduktif.Statistika mempunyai peranan penting dalam
berpikir induktif. Salah satu langkah kearah penguasaan adalah mengetahui
dengan benar peranan masing-masing sarana berpikir dalam keseluruhan proses
berpikir ilmiah.
2. Sarana Berpikir Ilmiaha. BahasaBahasa merupakan alat komunikasi verbal yang
dipakai dalam seluruh proses berpikir ilmiah. Definisi bahasa menurut Jujun
Suparjan Suriasumantri menyebut bahasa sebagai serangkaian bunyi dan lambang
yang membentuk makna. Sedangkan dalam KBBI(Kamus Besar Bahasa Indonesia) bahasa
ialah sistem lambang bunyi yang arbitrer yang dipergunakan oleh para anggota
suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan
diri. Jadi bahasa menekankan bunyi, lambang, sistematika, komunikasi, dan
alat.Bahasa memiliki tujuh ciri sebagai berikut :Sistematis, yang berarti
bahasa mempunyai pola atau aturan. Arbitrer (manasuka). Artinya, kata sebagai
simbol berhubungan secara tidak logis dengan apa yang disimbolkannya.
Ucapan/vokal.Bahasa berupa bunyi.Bahasa itu simbol.Kata sebagai simbol mengacu
pada objeknya.Bahasa, selain mengacu pada suatu objek, juga mengacu pada
dirinya sendiri.Artinya, bahasa dapat dipakai untuk menganalisis bahasa itu
sendiri.Manusiawi, yakni bahasa hanya dimiliki oleh manusia.Bahasa itu
komunikasi.Fungsi terpenting dari bahasa adalah menjadi alatkomunikasi dan interaksi.a.1.Ciri-Ciri
Bahasa IlmiahBahasa ilmiah memiliki ciri-ciri tersendiri, yaitu informatif,
reproduktif atau intersubjektif, dan antiseptik. Informatif berarti bahwa
bahasa ilmiah mengungkapan informasi atau§ pengetahuan. Informasi atau pengetahuan
ini dinyatakan secara eksplisit dan jelas untuk menghindari kesalahpahaman.
Reproduktif adalah bahwa pembicara atau penulis menyampaikan
informasi Reproduktif adalah bahwa pembicara atau penulis menyampaikan
informasi§ yang sama dengan informasi yang diterima oleh pendengar atau
pembacanya.
Menurut Kemeny, antiseptik berarti bahwa bahasa ilmiah itu objektif dan tidak
memuat unsur emotif, kendatipun pada kenyataannya unsur emotif ini sulit
dilepaskan dari unsur informatif.
Slamet Iman Santoso mengimbuhkan bahwa bahasa ilmiah itu bersifat deskriptif
(descriptive language).Artinya, bahasa ilmiah menjelaskan fakta dan pemikiran;
dan pernyataan-pernyataan dalam bahasa ilmiah bisa diuji benar-salahnya.
Beerling, Kwee, Mooij, Van Peursen menambahkan ciri intersubjektif,yaitu
ungkapan-ungkapan yang dipakai mengandung makna-makna yang sama bagi para
pemakainya.
a.2.Kelemahan Bahasa
Bahasa sangat vital bagi manusia dalam aktivitas ilmiah (maupun aktivitas
non-ilmiah). Bahasa memperjelas cara berpikir manusia, maka orang yang terbiasa
menulis dengan bahasa yang baik akan mempunyai cara berpikir yang lebih
sistematis.
Kelemahan bahasa dalam menghambat komunikasi ilmiah yaitu :
Bahasa mempunyai multifungsi (ekspresif, konatif, representasional, informatif,
deskriptif, simbolik, emotif, afektif) yang dalam praktiknya sukar untuk
dipisah-pisahkan. Akibatnya, ilmuwan sukar untuk membuang faktor emotif dan
afektifnya ketika mengomunikasikan pengetahuan informatifnya.
Kata-kata mengandung makna atau arti yang tidak seluruhnya jelas dan
eksak.Bahasa sering kali bersifat sirkular (berputar-putar).Bahasa menjadikan
manusia sebagai makhluk yang lebih maju ketimbang makhluk-makhluk
lainnya.Bahasa sebagai sarana berpikir ilmiah mempunyai fungsi-fungsi yang
sangat bermanfaat bagi aktivitas-aktivitas ilmiah. Di sisi lain, bahasa tidak
alpa dari kelemahan-kelemahannya yang merintangi pencapaian tujuan dari
aktivitas-aktivitas ilmiah. Kelemahan-kelemahan bahasa ini barangkali akan
ditutupi oleh kelebihan-kelebihan dari dua sarana berpikir ilmiah lainnya,
yaitu matematika dan statistika.
b. Matematika
Matematika memiliki struktur dengan keterkaitan yang kuat dan jelas satu dengan
lainnya serta berpola pikir yang bersifat deduktif dan konsisten. Matematika
merupakan alat yang dapat memperjelas dan menyederhanakan suatu keadaan atau
situasi melalui abstraksi, idealisasi, atau generalisasi untuk suatu studi
ataupun pemecahan masalah.Pentingnya matematika tidak lepas dari perannya dalam
segala jenis dimensi kehidupan.Mengkomunikasikan gagasan dengan bahasa
matematika justru lebih praktis, sistematis, dan efisien.Begitu pentingnya
matematika sehingga bahasa matematika merupakan bagian dari bahasa yang
digunakan dalam masyarakat.Hal tersebut menunjukkan pentingnya peran dan fungsi
matematika, terutama sebagai sarana untuk memecahkan masalah baik pada
matematika maupun dalam bidang lainnya.
Peranan matematika sebagai sarana berpikir ilmiah adalah dapat diperoleh
kemampuan-kemampuan meliputi :
Menggunakan algoritma,Menurut Kemeny, antiseptik berarti bahwa bahasa
ilmiah itu objektif dan tidak memuat unsur emotif, kendatipun pada kenyataannya
unsur emotif ini sulit dilepaskan dari unsur informatif.Slamet Iman Santoso
mengimbuhkan bahwa bahasa ilmiah itu bersifat deskriptif (descriptive
language).Artinya, bahasa ilmiah menjelaskan fakta dan pemikiran; dan
pernyataan-pernyataan dalam bahasa ilmiah bisa diuji benar-salahnya. Beerling,
Kwee, Mooij, Van Peursen menambahkan ciri intersubjektif,yaitu
ungkapan-ungkapan yang dipakai mengandung makna-makna yang sama bagi para
pemakainya.a.2.Kelemahan BahasaBahasa sangat vital bagi manusia dalam aktivitas
ilmiah (maupun aktivitas non-ilmiah). Bahasa memperjelas cara berpikir manusia,
maka orang yang terbiasa menulis dengan bahasa yang baik akan mempunyai cara
berpikir yang lebih sistematis.Kelemahan bahasa dalam menghambat komunikasi
ilmiah yaitu :Bahasa mempunyai multifungsi (ekspresif, konatif,
representasional, informatif, deskriptif, simbolik, emotif, afektif) yang dalam
praktiknya sukar untuk dipisah-pisahkan. Akibatnya, ilmuwan sukar untuk
membuang faktor emotif dan afektifnya ketika mengomunikasikan pengetahuan
informatifnya.Kata-kata mengandung makna atau arti yang tidak seluruhnya jelas
dan eksak.Bahasa sering kali bersifat sirkular (berputar-putar).Bahasa menjadikan
manusia sebagai makhluk yang lebih maju ketimbang makhluk-makhluk
lainnya.Bahasa sebagai sarana berpikir ilmiah mempunyai fungsi-fungsi yang
sangat bermanfaat bagi aktivitas-aktivitas ilmiah. Di sisi lain, bahasa tidak
alpa dari kelemahan-kelemahannya yang merintangi pencapaian tujuan dari
aktivitas-aktivitas ilmiah. Kelemahan-kelemahan bahasa ini barangkali akan
ditutupi oleh kelebihan-kelebihan dari dua sarana berpikir ilmiah lainnya,
yaitu matematika dan statistika.
b. MatematikaMatematika memiliki struktur dengan keterkaitan yang kuat dan
jelas satu dengan lainnya serta berpola pikir yang bersifat deduktif dan
konsisten. Matematika merupakan alat yang dapat memperjelas dan menyederhanakan
suatu keadaan atau situasi melalui abstraksi, idealisasi, atau generalisasi
untuk suatu studi ataupun pemecahan masalah.Pentingnya matematika tidak lepas
dari perannya dalam segala jenis dimensi kehidupan.Mengkomunikasikan gagasan
dengan bahasa matematika justru lebih praktis, sistematis, dan efisien.Begitu
pentingnya matematika sehingga bahasa matematika merupakan bagian dari bahasa
yang digunakan dalam masyarakat.Hal tersebut menunjukkan pentingnya peran dan
fungsi matematika, terutama sebagai sarana untuk memecahkan masalah baik pada
matematika maupun dalam bidang lainnya.Peranan matematika sebagai sarana
berpikir ilmiah adalah dapat diperoleh kemampuan-kemampuan meliputi
: Menggunakan algoritma,v Melakukan manipulasi secara
matematika,v Mengorganisasikan data,vmemanfatkan simbol, tabel, grafik,
dan membuatnya,v Mengenal dan menemukan pola,v Menarik
kesimpulan,v Membuat kalimat atau model matematika,v Membuat
interpretasi bangun geometri,v Memahami pengukuran dan satuanya,v Menggunakan
alat hitung dan alat bantu lainya dalam matematika, seperti tabel matematika,
kalkulator, dan komputer.vb.1. Kelebihan dan Kekurangan MatematikaKelebihan
matematika antara lain sebagai berikut :Tidak memiliki unsur emotifBahasa
matematika sangat universal.Adapun kelemahan dari matematika adalah bahwa
matematika tidak mengandungbahasa emosional (tidak mengandung estetika) artinya
bahwa matematika penuhdengan simbol yang bersifat artifersial dan berlaku
dimana saja.
c. StatistikaStatistika mempunyai peranan penting dalam berpikir
induktif.Konsep statistikasering dikaitkan dengan distribusi variabel yang
ditelaah dalam suatu populasi tertentu. Statistika memberikan cara untuk dapat
menarik kesimpulan yang bersifat umum dengan jalan mengamati hanya sebagian
dari populasi yang bersangkutan. Statistika mampu memberikan secara kuantitatif
tingkat ketelitian dari kesimpulan yang ditarik tersebut, yang pada dasarnya
didasarkan pada asas yang sangat sederhana, yakni makin besar contoh yang
diambil maka makin tinggi tingkat ketelitian tersebut dan sebaliknya.
d. LogikaLogika adalah sarana untuk berpikir sistematik, valid dan
dapatdipertanggungjawabkan. Dalam arti luas logika adalah sebuah metode dan
prinsip-prinsip yang dapat memisahkan secara tegas antara penalaran yang benar
dengan penalaran yang salah.Karena itu, berpikir logis adalah berpikir sesuai
dengan aturan-aturan berpikir.Berpikir membutuhkan jenis-jenis pemikiran yang
sesuai.Logika dapat di sistemisasi dalam beberapa golongan: Menurut Kualitas
dibagi dua, yakni Logika Naturalis (kecakapan§ berlogika berdasarkan
kemampuan akal bawaan manusia) dan Logika Artifisialis (logika ilmiah) yang
bertugas membantu Logika Naturalis dalam menunjukkan jalan pemikiran agar lebih
mudah dicerna, lebih teliti, dan lebih efisien.
Menurut Metode dibagi dua yakni Logika Tradisional yakni logika yang
mengikuti aristotelian dan Logika Modern Menurut Metode dibagi dua yakni
Logika Tradisional yakni logika yang mengikuti aristotelian dan Logika Modern§ Menurut
Objek dibagi dua yakni Logika Formal (deduktif dan induktif) dan Logika
Material.§3. Hubungan Antara Sarana Ilmiah Bahasa, Logika,Matematika, Dan
StatistikaBahasa merupakan alat komunikasi verbal yang dipakai dalam seluruh
proses berpikir ilmiah di mana bahasa merupakan alat berpikir dan alat
komunikasi untuk menyampaikan jalan pikiran tersebut kepada orang lain.
Ditinjau dari pola berpikirnya, maka ilmu merupakan gabungan antara berpikir
deduktif dan berpikir induktif. Untuk itu, penalaran ilmiah menyandarkan diri kepada
proses logika deduktif dan logika induktif. Matematika mempunyai peranan yang
penting dalam berpikir deduktif, sedangkan statistika mempunyai peranan penting
dalam berpikir induktif. Jadi keempat sarana ilmiah ini saling berhubungan erat
satu sama lain.