Hetalia: Axis Powers - Liechtenstein

Rabu, 12 November 2014

Teori-teori kebenaran

D. Masalah Kepastian dan Falibilisme Moderat                                                1.      Masalah Kepastian Kebenaran Ilmiah                                                                         Dalam empat macam kebenaran, melahirkan 2 pandangan yang berbeda, yaitu pandangan kaum rasionalis yang menekankan kebenaran logis-rasional, dan pandangan kaum empirisis yang menekankan kebenaran empiris. Kebenaran kaum rasionalis bersifat sementara, terlepas dari seberapa tinggi tingkat kepastiannya karena kebenaran sebagai keteguhan dari suatu pernyataan atau kesimpulan sangat tergantung pada kebenaran teori atau pernyataan lain. padahal, teori atau pernyataan lain sangat mungkin salah. Sedangkan kaum empirisis tidak pernah berpretensi untuk menghasilkan suatu pengetahuan yang pasti benar tentang alam. Bagi mereka, ilmu pengetahuan tidak memiliki ambisi seperti iman dalam agama. Ilmu pengetahuan tidak akan pernah memberikan suatu formulasi final dan absolut tentang seluruh universum = falibilisme.Falibilisme beranggapan bahwa kendati pengetahuan ilmiah merupakan pengetahuan yang paling baik yang dapat kita miliki.                     2.      Falibilisme dan Metode Ilmu Pengetahuan                                                       Falibilisme ilmu pengetahuan berasal dari dua sumber, yaitu sebagai konsekuensi dari metode ilmu pengetahuan, dan dari objek ilmu pengetahuan yaitu universum alam. Indikasi metodologis sebagai alasan dari falibilisme moderat : Peneliti sendiri tidak pernah merasa pasti dengan apa yang dicapainya sendiri,  Fokus utama dari kegiatan penelitian ilmiah adalah verifikasi dan hipotesis. Karena metode induksi. Setiap hipotesis pada dasarnya tidak pasti.                                                                               3.      Falibilisme dan Objek Ilmu Pengetahuan                                                      a.      Realitas objek                                                                                                        Nyata berarti lepas dari pikiran manusia, Realitas dapat dikatakan real jika memang dapat dikenal, dan Realitas yang dibicarakan ilmu pengetahuan adalah realitas publik, realitas yang menjadi perhatian banyak orang. Yang real berarti yang memiliki dimensi sosial.                                                                                                            b.      Evolusi objek pengetahuan ilmiah                                                                           Objek ilmu pengetahuan selalu berubah-ubah dan mengalami perkembangan. Aspek :   Objek pengetahuan ilmiah selalu berubah sehingga pengetahuan yang kita capai, sekalipun sangat akurat, harus ditinjau kembali, dan Objek dari pengetahuan kita selalu berkembang kepada regularitas.                                                                                        E. Ilmu teknologi dan kebudayaan                                                                              Teknologi adalah komponen penting dari kebudayaan, karena ia memiliki peranan yang tidak ringan dalam proses kebudayaan, terutama dalam kaitannya dengan fenomena globalisasi yang tidak dapat dibendung bahkan oleh institusi manapun. Berbeda dengan peranan ilmu terhadap kebudayaan, teknologi lebih menekankan aspek pembangunan unsur material kebudayaan manusia. Dalam konteks ini teknologi juga merupakan bagian dari realitas obyektif yang pada akhirnya memiliki peranan yang besar terhadap komponen kebudayaan lain, dan terhadap manusia sendiri. Dalam keterkaitannya dengan hal di atas, stereotif yang muncul dalam pikiran masyarakat dewasa ini lebih memojokkan posisi teknologi, yang dianggap sebagai penyebab utama dari goyahnya dan terkoyak-koyaknya sistem kebudayaan. Pandangan tersebut memang tidak sepenuhnya salah. Hal ini muncul lantaran adanya inkonsistensi komunikasi antar kebudayaan yang selalu mengalami pergeseran-pergeseran. Lagi pula produk suatu teknologi, dengan perangkat lunak dan sistem nilainya, misalnya, sangat mudah melintasi secara akseleratif, dan untuk kemudian memasuki wilayah sistem-sistem kebudayaan. Akselesari perlintasan sistem nilai teknologi kedalam demarkasi kebudayaan ini dirasakan semakin sulit dikendalikan dan sering melahirkan gejala-gejala yang tidak dikehendaki manusia sendiri. Pergulatan entitas teknologi dan kebudayaan ini kemudian sering menimbulkan masalah bagi kehidupan manusia. Di antaranya adalah yang sering dikenal dengan istilah kesenjangan teknologi. Jelas bahwa masalah ini muncul lantaran munculnya perbedaan yang bersifat mendasar antara teknologi dan kebudayaan itu sendiri. Bahkan, secara sosiologis, sifat teknologi memunculkan ketergantungan budaya dan budaya ketergantungan. Selain itu juga teknologi mempengaruhi budaya masyarakat yang mengarah pada sentralistik kebudayaan, kecenderungan untuk melihat realitas secara dikotomis dan menimbulkan suatu pandangan antroposentris yang marginalis. Mencermati pemaparan yang demikian, hal pokok yang dapat diungkapkan berkaitan dengan hubungan teknologi dan kebudayaan ini bahwa hubungan itu dapat dilihat melalui perspektif teknologi maupun kebudayaan. Sudut pandang yang pertama lebih menutut kearifan manusia untuk melihat bahwa pilihan-pilihan yang disediakan teknologi mengandung konsekuensi masing-masing. Disamping pula, potensi manusia dalam memenuhi hasrat yang tidak terbatas sesungguhnya memiliki dimensi ganda yang bersifat dialektis: mengembangkan potensi seluas-luasnya serta kemampuan untuk mengendalikannya. Sementara perspektif yang kemudian lebih mengedepankan adanya komunikasi antar sistem budaya. Baik itu melalui proses-proses eksternalisasi bagi pentransfer teknologi, ataupun proses-proses inkulturasi, akulturasi bahkan invasi kebudayaan bagi pihak yang mendapatkan transfer teknologi itu. Ilmu pengetahuan, secara fungsional, merupakan sarana untuk membebaskan dan menjinakkan teknologi dengan melalui upaya meningkatkan kebudayaan. Tentu saja hal ini tidak begitu saja dapat dibaca secara mudah. Karena sesungguhnya persoalan hubungan antara ilmu teknologi dan kebudayaan merupakan realitas yang komplek. Dalam artian bahwa mengabaikan satu saja dari realitas tersebut ketika memperbincangkan salah satu di antaranya, justru akan menghasilkan pandangan yang timpang.                                                                                                               
     F. Etika Keilmuwan                                                                                                      
    Istilah etika keilmuwan mengantarkan kita pada kontemplasi mendalam, baik mengenai hakekat, proses pembentukan, lembaga yang memproduksi ilmu lingkungan yang kondusif dalam pengembangan ilmu, maupun moralitas dalam memperoleh dan mendayagunakan ilmu tersebut. Etika keilmuan berasal dari dua kata yaitu etika dan kelimuan (ilmu). Kata pertama etika berasal dari bahasa Yunani Kuno: “ethikos”, berarti “timbul dari kebiasaan”  Etika Keilmuan | 12Kamus Besar Bahasa Indonesia etika adalah ilmu tentang apa yg baik dan apa yg buruk dantentang hak dan kewajiban moral (akhlak).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar