Teori-teori
kebenaran
A. Pengetahuan
dan Keyakinan
Pengetahuan
adalah informasi yang diketahui atau disadari oleh manusia, atau
pengetahuan adalah berbagai gejala yang ditemui dan diperoleh manusia
melalui pengamatan indrawi.Pengetahuan akan muncul ketika orang menggunakan
akal atau indranya untuk mengenali benda atau peristiwa tertentu yang belum
pernah dilihat atau dirasakan. Misalnya, saat pertama kali orang makan cabai
maka Dia akan tahu bagaimana rasa cabai itu, bentuknya, warnanya, atau bahkan
akan bertanya-tanya apa zat-zat apa yang dikandungnya.
Pengetahuan
empiris menekankan pada pengamatan dan pengalaman indrawi, sedangkan
pengetahuan rasional didapatkan melalui akal budi. Misalnya, orang mengetahui
bahwa cabai rasanya pedas karena dia pernah memakannya. Tidak mungkin hanya
dengan dipikir-pikir orang itu akan mengetahui bahwa rasa cabai adalah pedas.
Nemun, pernyataan 1+1=2 adalah hasil dari pemikiran (akal) manusia, bukan
merupakan suatu pengamatan empiris.
Keyakinan
adalah suatu sikap yang ditunjukkan manusia saat dia merasa cukup tahu dan
menyimpulkan bahwa dirinya telah mencapai kebenaran. Maksudnya adalah orang
akan merasa yakin kalau apa yang mereka ketahui adalah benar. Jadi, keyakinan
terjadi setelah orang percaya adanya suatu kebenaran.
Menurut
teori kebenaran sebagai kesesuaian, keyakinan adalah suatu pernyataan yang
tidak disertai bukti yang nyata. Misalnya, petir disebabkan oleh amukan para
dewa. Pernyataan ini tidak bisa dibuktikan, sehingga hanya bisa dikatakan
sebagai suatu keyakinan. Sementara pernyataan petir disebabkan kerena
adanya tabrakan antara awan yang bermuatan positif dan negative adalah suatu
kebenaran, karena dapat dibuktikan. Sehingga pernyataan ini disebut sebagai pengetahuan.
Ada
dua istilah yang berhubungan dengan keyakinan dan pengetahuan.
1. Magic
power- (kekuatan magis) –> fenomena kekuatan gaib. Orang yang lebih
percaya pada sesuatu yang aneh(karena tidak tahu sebabnya) sebagai kekuatan
magis.
2. Naturalisme,
berarti sesuatu yang alami.
B. Sumber
pengetahuan rasionalisme dan empirisme
Rasionalisme
ini beranggapan bahwa sumber pengetahuan manusia adalah rasio. Jadi dalam
proses
perkembangan
ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh manusia harus dimulai dari rasio. Tanpa
rasio
maka
mustahil manusia itu dapat memperolah ilmu pengetahuan. Rasio itu adalah
berpikir. Maka
berpikir
inilah yang kemudian membentuk pengetahuan. Dan manusia yang berpikirlah yang
akan
memperoleh
pengetahuan. Semakin banyak manusia itu berpikir maka semakin banyak pula
pengetahuan
yang didapat. Berdasarkan pengetahuan lah manusia berbuat dan menentukan
tindakannya.
Sehingga nantinya ada perbedaan prilaku, perbuatan, dan tindakan manusia sesuai
dengan
perbedaan pengetahuan yang didapat tadi.
Namun
demikian, rasio juga tidak bisa berdiri sendiri. Ia juga butuh dunia nyata.
Sehingga proses
pemerolehan
pengetahuan ini ialah rasio yang bersentuhan dengan dunia nyata di dalam
berbagai
pengalaman
empirisnya. Maka dengan demikian, seperti yang telah disinggung sebelumnya
kualitas
pengetahuan
manusia ditentukan seberapa banyak rasionya bekerja. Semakin sering rasio
bekerja
dan
bersentuhan dengan realitas sekitar maka semakin dekat pula manusia itu kepada
kesempunaan.
Dunia merupakan sebab
akibat. Perkembangan akal ditentukan pengalaman empiris (sensual).
Sumber pengetahuan
adalah kebenaran nyata (empiris) pengetahuan datang dari pengalaman (rasio
pasif pada saat pertama
pengetahuan didapatkan).
C. Kebenaran Ilmiah
Kebenaran ilmiah tidak
bisa dilepaskan dari makna dan fungsi ilmu itu sendiri sejauh mana dapat
digunakan dan dimanfaatkan oleh manusia. Di samping itu proses untuk
mendapatkannya haruslah melalui tahap-tahap metode ilmiah.
Kebenaran
ilmiah paling tidak memiliki tiga sifat dasar, yakni:
1. Struktur
yang rasional-logis. Kebenaran dapat dicapai berdasarkan kesimpulan logis
atau rasional dari proposisi atau premis tertentu. Karena kebenaran ilmiah
bersifat rasional, maka semua orang yang rasional (yaitu yang dapat menggunakan
akal budinya secara baik), dapat memahami kebenaran ilmiah. Oleh sebab itu
kebenaran ilmiah kemudian dianggap sebagai kebenaran universal. Dalam memahami
pernyataan di depan, perlu membedakan sifat rasional (rationality) dan
sifat masuk akal (reasonable). Sifat rasional terutama berlaku untuk kebenaran
ilmiah, sedangkan masuk akal biasanya berlaku bagi kebenaran tertentu di luar
lingkup pengetahuan. Sebagai contoh: tindakan marah dan menangis atau
semacamnya, dapat dikatakan masuk akal sekalipun tindakan tersebut mungkin
tidak rasional.
2. Isi
empiris. Kebenaran ilmiah perlu diuji dengan kenyataan yang ada, bahkan
sebagian besar pengetahuan dan kebenaran ilmiah, berkaitan dengan kenyataan
empiris di alam ini. Hal ini tidak berarti bahwa dalam kebenaran ilmiah,
spekulasi tetap ada namun sampai tingkat tertentu spekulasi itu bisa
dibayangkan sebagai nyata atau tidak karena sekalipun suatu pernyataan dianggap
benar secara logis, perlu dicek apakah pernyataan tersebut juga benar secara
empiris.
3. Dapat
diterapkan (pragmatis). Sifat pragmatis, berusaha menggabungkan kedua sifat
kebenaran sebelumnya (logis dan empiris). Maksudnya, jika suatu “pernyataan
benar” dinyatakan “benar” secara logis dan empiris, maka pernyataan tersebut
juga harus berguna bagi kehidupan manusia. Berguna, berarti dapat untuk
membantu manusia memecahkan berbagai persoalan dalam hidupnya.
Kebenaran ilmiah adalah
kebenaran yang sesuai dengan fakta dan mengandung isi pengetahuan. Pada saat
pembuktiannya kebenaran ilmiah harus kembali pada status ontologis objek dan
sikap epistemologis (dengan cara dan sikap bagaimana pengetahuan tejadi) yang
disesuaikan dengan metodologisnya.
Hal yang penting dan
perlu mendapat perhatian dalam hal kebenaran ilmiah yaitu bahwa kebenaran dalam
ilmu harus selalu merupakan hasil persetujuan atau konvensi dari para ilmuwan
pada bidangnya masing-masing.
Kebenaran ditemukan
dalam pernyataan-pertanyaan yang sah, dalam ketidak-tersembunyian (aleteia).
Kebenaran adalah kesatuan dari pengetahuan dengan yag diketahui, kesatuan
subjek dengan objek, dan kesatuan kehendak dan tindakan. Kebenaran sering
dianggap sebagai sesuatu yang harus “ditemukan” atau direbut melalui pembedaan
antara kebenaran dengan ketidakbenaran.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar