Humoniora
Sebagai Ilmu, Teknologi dan
Nilai
Ilmu
humaniora merupakan ilmu untuk memanusiakan manusia.
HUMANIORA
DAN PENGEMBANGAN ILMU DAN TEKNOLOGI
Penguasaan dan pengembangan ilmu dan teknologi adalah amanat kemanusiaan, oleh
karena itu harus memberi manfaat bagi kesejahteraan manusia. Humaniora membawa
nilai-nilai budaya manusia. Nilai-nilai tersebut adalah universal. Tanpa
humaniora pengembangan ilmu dan teknologi tidak lagi bermanfaat bagi manusia.
Pengembangan/ perkembangan yang banyak disusupi nilai-nilai bisnis menimbulkan
hedonisme yang bermula di masyarakat bisnis, yang berlanjut pada umunya.
HUMANIORA
DAN ILMU KEDOKTERAN
Lebih khusus dalam kaitan dengan pengembangan ilmu dan teknologi, ialah Iptek
Kedokteran. Kedokteran adalah ilmu yang paling manusiawi, seni yang paling
indah, dan humaniora yang paling ilmiah (Pellegrino, 1970).
Clauser (1990) berpendapat bahwa mempelajari humaniora – sastra, filsafat, sejarah
– dapat meningkatkan kualitas pikir (qualities of mind) yang diperlukan dalam
ilmu kedokteran. Kualitas pikir tidak lagi terfokus pada hal-hal hafalan,
materi baku, konsep mati, tetapi ditingkatkan dalam hal kemampuan kritik,
perspektif yang lentur, tidak terpaku pada dogma, dan penggalian nilai-nilai
yang berlaku didalam ilmu kedokteran. Menurunnya studi kedokteran cenderung
memfokuskan mindset pada ujian, diskusi yang monoton
tentang pasien, hasil laboratorium, insiden, banyak pasien, dan lain-lain.
Humaniora membebaskan kita dari terkunci dalam satu mindset. Kita perlu
kelenturan dalam mengubah perspektif, dan mengubah interpretasi bila
diperlukan. Dengan sastra, seseorang (mahasiswa kedokteran) dapat mengembangkan
empati dan toleransi, mencoba menempatkan diri dalam gaya hidup, imaginasi,
keyakinan yang berbeda.
Ilmu kedokteran, selain ilmu-ilmu dasar, adalah juga profesi. Pengembangan
profesi cenderung mengkotak-kotakkan pada bidang spesialisasi. Seorang
spesialis cenderung memahami hanya bidang spesialisasinya saja. Tuntutan
efektif-efisien, perhitungan cost-benefit cenderung menghapus nilai empati,
kurang dapat menempatkan diri sebagai penderita. Hubungan dokter-pasien menjadi
kurang manusiawi. Humaniora memperbaiki kondisi tersebut. Ilmu kedokteran
adalah ilmu yang sarat dengan nilai-nilai, namun hal ini sering dilupakan. Oleh
karena itu humaniora perlu diberikan untuk membuat profesi medik lebih sensitif
terhadap adanya nilai-nilai tersebut dan pengetrapannya dalam praktek
Ø Humaniora terdiri atas unsur-unsur seni, etika, kearifan,
nilai-nilai kejujuran, kebenaran, kelembutan, memanusiakan manusia,
menyingkirkan beban dari dan berbuat baik bagi manusia. Tanpa nilai-nilai
tersebut, manusia atau perilakunya dapat dikategorikan tidak human, tidak
manusiawi, tidak berbudaya atau barbar.
Ø Pengembangan ilmu dan teknologi adalah amanat
kemanusiaan, untuk kesejahteraan manusia. Oleh karena itu perlu dipandu oleh
nilai-nilai humaniora, agar terjamin kemanfaatannya untuk manusia.
Ø Agama seharusnya merupakan nilai yang paling azasi dari
seluruh nilai-nilai humaniora. Nilai-nilai agama diharapkan dapat dikembangkan
oleh agamawan/ruhaniawan untuk memandu pengembangan ilmu/teknologi dan
penerapannya.
Ø Humaniora diharapkan dapat meningkatkan kualitas berfikir,
yang ditengarai sebagai sifat kritis, lentur dalam perspektif, tidak terpaku
pada dogma, tanggap terhadap nilai-nilai, dan sifat empati.
Ø Berbagai macam kasus kekerasan yang
terjadi di dalam kehidupan bermasyarakat, tindakan anarkis dan pelanggaran nilai
kemanusiaan bahkan sudah menjadi keseharian. Indikatornya adalah pendidikan
belum berperan signifikan dalam proses membangun kepribadian bangsa yang
berjiwa sosial dan kemanusiaan. Tampaknya, manusia harus lebih “dimanusiakan” lagi. Keterpurukan bangsa yang
berlarut-larut juga berhubungan dengan kegagalan pendidikan di masa lalu yang
mengakibatkan terjadinya proses dehumanisasi.
Ø Gagasan dan langkah menuju pendidikan
yang berorientasi kemanusiaan merupakan salah satu upaya mengembalikan
nilai-nilai kemanusiaan yang semakin terkikis. Melalui pendidikan de-humaniora diharapkan manusia dapat mengenal
dirinya, kemanusiaannya yang utuh, dan tidak hanya dapat menundukkan lingkungan
alam fisik melalui kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pada prinsipnya, pendidikan
humaniora bertujuan membuat manusiawi/untuk keselamatan dan kesempurnaan
manusia.
Ø Manusia sebagai
pengemban nilai-nilai
Di muka telah dijelaskan bahwa adanya akal dan budidaya
pada manusia, telah menyebabkan adanya perbedaan cara dan pola hidup di antara
keduanya. Oleh karena itu, akal dan budi menyebabkan manusia memiliki cara dan
pola hidup yang berdimensi ganda, yakni kehidupan yang bersifat material dan
kehidupan yang bersifat spiritual. Manusia dimanapun dia berada dan apapun
kedudukannya selalu berpengharapan dan berusaha merasakan nikmatnya kedua jenis
kehidupan tersebut.
Hal di atas sebagaimana kodrat dari Tuhan bahwasanya
manusia memang ditakdirkan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar mereka saling
mengenal. Saling mengenal di sini diartikan bahwasanya agar mereka yang
berbeda-beda itu bisa saling melengkapi dalam artian memberi dan menerima.
Kemajuan dan perkembangan yang hanya terbatas pada
kemajuan material saja akan menimbulkan kepincangan pada kehidupan manusia.
Kehidupan mereka kurang sempurna, dimensi di dalamnya akan hilang, karena batin
mereka kosong akibatnya tidak akan memperoleh ketenteraman, ketertiban hidup,
melainkan justru dapat lebih rusak karenanya.
Ø Material dan spiritual adalah dua hal
yang saling melengkapi. Dua hal ini bagaikan jasad dan ruh. Kebahagiaan
material akan menunjang jasmani kita, sedangkan kebahagiaan spiritual akan
menunjang ruhani kita.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar